BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Jumat, 04 Desember 2009

Tentang Kebudayaan

KEBUDAYAAN
Oleh : Budi Santosa, Dkk.
Manusia dengan kemampuan akal atau budinya, telah mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi keperluan hidupnya, sehingga ia menjadi makhluk yang paling berkuasa di muka bumi ini. Namun demikian, berbagai macam sistem tindakan tadi harus dibiasakan olehnya dengan belajar sejak ia lahir selama seluruh jangka waktu hidupnya, sampai saat ia mati. Hal itu karena kemampuan untuk melaksanakan semua sistem tindakan itu tidak terkandung dalam gen-nya, jadi tidak dibawa olehnya bersama lahirnya.
Dalam ilmu antropologi, yang telah menjadikan berbagai cara hidup manusia dengan berbagai macam sistem tindakan tadi sebagai obyek penelitian dan analisanya, aspek belajar itu merupakan aspek yang sangat penting. Itulah sebabnya dalam hal memberi pembatasan terhadap konsep ”kebudayaan”, ilmu antropologi sering kali sangat berbeda dengan berbagai ilmu lain. Juga apabila dibandingkan dengan arti yang biasanya diberikan kepada konsep itu dalam bahasa sehari-hari, yaitu arti yang terbatas kepada hal-hal yang indah seperti candi, tari-tarian, seni rupa, seni suara, kesusasteraan dan filsafat, definisi ilmu antropologi jauh lebih luas sifat dan ruang lingkupnya. Menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar.
Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaan karena hanya amat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tak perlu dibiasakannya dengan belajar, yaitu hanya beberapa tindakan naluri berupa refleks, beberapa tindakan akibat proses fisiologi, atau kelakuan apabila ia sedang membabi buta. Bahkan berbagai tindakan manusia yang merupakan kemampuan naluri yang terbawa oleh makhluk manusia dalam gen-nya bersama kelahirannya (seperti misalnya makan, minum atau berjalan dengan kedua kakinya) , juga dirombak olehnya menjadi tindakan kebudayaan. Manusia makan pada waktu-waktu tertentu yang dianggapnya wajar dan pantas, ia makan dan minum dengan alat-alat, cara-cara dan sopan santun atau protokol yang sering kali sangat rumit, yang harus dipelajarinya dahulu dengan susah payah. Manusia berjalan tidak menurut wujud organisma yang telah ditentukan oleh alam, melainkan merombak cara berjalannya dengan gaya seperti prajurit, berjalan dengan gaya lemah lembut, berjalan seperti peragawati, dan sebagainya yang semuanya harus dipelajari lebih dahulu.
Memang, definisi yang menganggap bahwa kebudayaan dan tindakan kebudayaan itu adalah segala tindakan yang harus dibiasakan oleh manusia dengan belajar(learned behavior), juga oleh beberapa ahli antropologi terkenal seperti C.Wissler, C.kluckhohn, A.Davis, atau A.Hoebel. Definisi-definisi yang mereka ajukan hanya merupakan beberapa buah saja diantara banyak definisi lain yang pernah diajukan, tidak hanya oleh para sarjana antropologi, melainkan juga oleh para sarjana-sarjana ilmu lain seperti sosiologi, filsafat, sejarah dan kesusateraan. Dua orang sarjana antropologi, A.L. Kroeber dan C. Kluckhon, pernah mengumpulkan sebanyak mungkin definisi tentang kebudayaan yang pernah dinyatakan orang dalam tulisan, dan ternyata bahwa ada paling sedikit 160 buah definisi. Ke-160 buah definisi itu kemudian mereka analisa, dicari latar belakang, prinsip dan intinya, kemudian diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe definisi. Hasil penelitian mengenai definisi kebudayaan tadi diterbitkan bersama menjadi buku berjudul ”Culture, A Critical Review of Concepts and Definitions(1952).
Kata”Kebudayaan” dan “Culture”. Kata “kebudayaan” berasal dari kata Sansekerta “buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari “buddhi” yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Ada sarjana lain yang mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari majemuk “budi-daya”, yang berarti daya dari budi. Karena itu mereka membedakan budaya dari kebudayaan. Demikianlah budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa itu. Dalam istilah antropologi budaya perbedaan itu ditiadakan. Kata budaya disini hanya dipakai sebagai suatu singkatan saja dari kebudayaan dengan arti yang sama.
Adapun kata “culture”, yang merupakan kata asing yang sama artinya dengan kebudayaan berasal dari kata latin “colere” yang berarti mengolah, mengerjakan, terutama mengolah tanh atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture sebagai segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah alam.
Artikel terlalu memonotonkan pada satu kajian ilmu pengetahuan saja. Meskipun artikel tersebut terdapat pada kajian ilmu tertentu tidak seharusnya memonotonkan satu pandangan disiplin ilmu saja dalam pembahasannya. Pandangan-pandangan disiplin ilmu lain dapat digunakan sebagai pembanding dan memperkaya kajiannya. Banyak mengangkat pandangan para ahli tetapi tidak dijelaskan mendetail, sehingga ditemukan rasa bingung dan ingin tahu yang lebih dalam bagi orang yang tidak masa bodoh tentang pandangan tokoh tersebut.
Manusia memang makhluk yang paling berkuasa di muka bumi ini karena Manusia dengan kemampuan akal atau budinya, telah mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi mencukupi keperluan hidupnya.
Budaya dengan kebudayaan dipisahkan, menurut asal kata kedua kata tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Budaya sebagai cipta, karsa dan rasa manusia. Sedangkan kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia yang diwujudkan dalam tiga bentuk yaitu ide (sistem gagasan), aktivitas dan benda-benda.
Berdasar kepada pengertian kebudayaan yang telah dipaparkan di atas. Menurut saya, Kebudayaan adalah keseluruhan hasil sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dalam masyarakat.
Sumber: Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi hal. 179-182. Jakarta: P.T Rineka Cipta

0 komentar: